Rabu, 17 Agustus 2011

Inilah Lonceng Kematian di Zaman Penjajahan Belanda




Soli Deo Gloria, demikian nama lonceng itu. Lonceng besar yang menggantung di atap menara stadhuis (balai kota) Batavia di sekitar abad 18 itu terkesan begitu mengerikan. PAsalnya setiap kali lonceng ini berbunyi, itu pertanda ada tawanan, yang dinilai jahat oleh Pemerintah Belanda kala itu, yang akan menemui ajal dihukum gantung.

Warta Kota mencoba naik ke menara yang kini jadi menara Museum Sejarah Jakarta (MSJ). Bagian menara memang tidak dibuka untuk umum karena kondisi atap gedung dan menara tak lagi memungkinkan dilewati banyak orang. Ruangan di menara di mana lonceng berada juga sempit. Untuk sampai di atas menara, orang harus melewati dua tangga yang curam.

Sampai di atas menara, Warta Kota menemukan sebuah alat penggerak kuno yang sudah lama tak terpakai. Pada alat itu menggantung semacam bandul. Lonceng yang terbilang kecil menempel di bagian atas. Di dekat lonceng ini ada besi yang dikaitkan dengan engkol. Jika engkol ditarik kemudian dilepas, maka besi tadi akan memukul lonceng. Bunyinya tak sebanding dengan cerita-cerita masa lalu, di mana saat “Lonceng Kematian” ini berdentang, pertanda rakyat akan menyaksikan malaikat pencabut nyawa menggantung pesakitan.

Lonceng ini akan dibunyikan untuk memanggil semua warga di dalam maupun di luar tembok Batavia untuk menyaksikan hukuman gantung.

Ilmuwan Umumkan Spesies Jutaan Tahun Yang Berguna Untuk Kesehatan Otot



Ilmuwan Inggris mengklaim bulu mungil dari spesies laut berusia 500 juta tahun mampu memperbaiki kerusakan otot. Hewan itu punya sifat regenerasi yang luar biasa.

Peneliti dari Manchester University mengatakan hewan yang dikenal dengan nama tunicates itu memiliki senyawa pada bulunya yang mampu bertindak sebagai penghalang kerusakan pada jaringan otot manusia. Ini berpotensi menciptakan pengobatan optimal bagi pasien dengan luka serius ataupun cacat permanen.

Ahli bimaterial itu menemukan bahwa bulu hewan tersebut memiliki senyawa seluleosa yang mampu mendorong sel-sel otot yang rusak ‘memperbaiki diri’ secara bersamaan. Ahli biomedis Stephen Eichorn, Julie Gough dan James Dugan berhasil mengekstraksi senyawa tersebut.

Dr. Eichorn percaya ekstrak selulosa itu mampu memperbaiki otot yang ada dengan menumbuhkan otot baru sejak dini. “Ada potensi untuk rekayasa otot presisi serta struktur arsitektural yang selaras dengan ligamen dan saraf.”

Tunicates juga dikenal sebagai sea squirts yang berkembang dalam berbagai bentuk dan ukuran di seluruh lapisan bawah dunia. Bahkan, makhluk tersebut bisa ditelusuri hingga 450 juta tahun lalu, periode Kambrium.